Thu, 21-10-2021      27OCT     OFF      OFF
USD:  Rp.14382    KRW:  Rp.15    SGD:  Rp.10657   

Black Friday

Black Friday diperingati pada hari Jumat terakhir di bulan November setiap tahun, atau sehari setelah Thanksgiving. Tahun ini, Black Friday jatuh pada Jumat, 29 November 2019.

Pekan terakhir November dianggap sebagai waktu yang tepat bagi masyarakat untuk berbelanja perlengkapan Natal, termasuk untuk bertukar kado dengan kerabatnya. Sedang bagi peretail, periode tersebut dianggap tepat untuk cuci gudang sebelum pergantian tahun.

Pada Black Friday, toko-toko biasa buka lebih pagi dan tutup lebih larut. Begitu besar diskon yang ditawarkan, orang-orang bisa begitu antusias mengantre sejak Kamis malam. Tak jarang, antrean itu menimbulkan kericuhan.

Tapi tahukah Anda, sejarah Black Friday? 

Kolumnis The Wall Street Journal Ben Zimmer mengatakan orang-orang AS sering salah mengerti asal-usul istilah Black Friday. Dalam The Origins of "Black Friday", Zimmer mengatakan banyak orang mengira istilah "black" merujuk turunnya pendapatan gerai karena banyak barang yang dijual dengan harga diskon.

Istilah Black Friday pertama kali dipakai tahun  1960-an oleh polisi Philadelphia. Ini  untuk menggambarkan fenomena kemacetan panjang di sepanjang kota. Kemacetan terjadi di mana-mana karena banyak orang yang berbondong-bondong antre di sekitar gerai yang menawarkan diskon. Inilah menjadi hari suram (black) bagi polisi karena harus mengamankan kota.

Suramnya Black Friday  tak hanya dialami para polisi,  para pengunjung juga merasakannya karena harus antre di gerai-gerai. Pegawai gerai  juga harus melayani pengunjung. Kehebohan terjadi, bahkan keriuhan terjadi karena konsumen sudah antre sebelum toko buka. Kemudian, saat pintu dibuka, keriuhan terjadi, saling desak-desakan, himpit-himpitan, sampai terinjak-injak terjadi.

Dalam gerai, mereka juga kerap  berkelahi demi mendapat barang yang mereka mau. Pesta diskon besar-besaran ini acap menimbulkan korban jiwa. Inilah kenapa menjadikan hari itu sebagai Black Friday bagi semua orang. Seiring dengan kejadian itu, toko-toko di AS yang awalnya berkinerja merah mulai membaik.

Sejatinya, sempat ada keinginan untuk mengubah istilah Black Friday dengan Big Friday, tapi upaya ini gagal. Keinginan tersebut lantaran Black Friday berkonotasi negatif, padahal tak serta merta begitu. Black Friday berujung dengan kegembiraan. Peritel bahagia karena lonjakan transaksi, konsumen senang mendapatkan barang impian.

Black Friday menjadi semakin sohor pasca iklan di majalah The American Philatelist pada tahun 1966. Akhir 1980-an, istilah tersebut semakin dikenal di kalangan pengecer yang kemudian mengaitkannya dengan penjualan pasca Thanksgiving.

Dan, Black Friday menjadi momen belanja terbesar di AS setiap tahun. Toko-toko memotong harga untuk meningkatkan penjualan dan keuntungan. Black Friday turut menyebar ke berbagai negara, termasuk di Indonesia. Banyak e-commerce di Indonesia juga memanfaatkan tanggal 29 November untuk menggelar diskon. Shopee memberikan diskon Rp 500.000, Lazada menebar diskon hingga 90%, Tokopedia juga memberikan diskon hingga 90% sampai ongkos kirim gratis.


sumber : katadata.id, tribunnews.id , kontan.co.id
Tags : #blackfriday #thanksgiving